Masyarakat Harapkan Perbaikan Infrastruktur

Home

Masyarakat Harapkan Perbaikan Infrastruktur

SINTANG– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Nikodemus mengungkapkan bahwa 90 persen masyarakat di Kecamatan Tempunak men

Roma Indeed Always There in the Heart Spalletti
Dewan Apresiasi Operasi Pasar untuk Tekan Inflasi dan Ringankan Beban Masyarakat
Dewan Apresiasi Opini WTP

SINTANG– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Nikodemus mengungkapkan bahwa 90 persen masyarakat di Kecamatan Tempunak mengharapkan perbaikan infrastruktur jalan. Pasalnya infrastruktur jalan rusak parah dan perlu perbaikan.

“Jujur saya pak, sebanyak 90 persen rata-rata warga kita disana minta perbaikan jalan. Karena saat ini ketika jalan-jalan rusak, komoditi sawit milik masyarakat tidak terjual. Bagaimana tidak, harga tandan buah segar (TBS) yang murah tidak sebanding dengan biaya angkut. Itu yang jadi masalah,” ucapnya, Jum’at 1 Juli 2022.

Menurutnya, kondisi ini harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang, karena Ia tidak ingin masyarakat selalu berlarut-larut terjebak dalam permasalahan yang sama.

“Besar harapan, berbagai permasalahan ini bisa diatasi secepatnya, kasian juga masyarakat kita sudah 76 tahun lebih belum menikmati infrastruktur yang memadai. Ketika akses jalan ke desa-desa rusak parah otomatis angkutan menjadi terhambat. Biaya angkutnya juga jadi lebih mahal. Dampaknya, harga-harga barang menjadi semakin mahal pula di kampung. Kondisi ini mulai dikeluhkan masyarakat saat ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, selain minta jalan, warga juga banyak mengeluhkan masalah telekomunikasi, masyarakat paham bukan kewenangan pemerintah kabupaten. Begitu juga soal listrik. Tapi di Kecamatan Tempunak sebagian besar sudah masuk listrik.

“Kemudian yang paling krusial adalah harga TBS di pabrik yang sangat rendah. Yakni dikisaran Rp 1200 atau Rp 1400 per kilogram. Meski pemerintah pusat sudah mencabut larangan ekspor CPO, harga TBS belum ada tanda-tanda kenaikan,” jelas Niko.

Dengan kondisi TBS yang murah, warga mulai enggan panen maupun melakukan pemeliharaan kebun sawit. Sudahlah harga barang di kampung mahal, TBS murah, ditambah lagi harga BMM jenis solar yang mahal bahkan susah didapat.

“Belum lagi harga pupuk yang mahal. Kemudian untuk mendapatkan pupuk subsidi sangat susah sekali di pasaran,” tukasnya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0