Dewan Sorot Tempat Wiasta yang Kurang Terawat

Home

Dewan Sorot Tempat Wiasta yang Kurang Terawat

SINTANG, RB - Ketua DPRD Kabupaten Sintang Florensius Ronny menyoroti potensi wisata yang dimiliki beberapa Desa, menurutnya ini sangat rugi bila pote

Bupati Cup Sintang V Tahun 2023 Resmi Dimulai
Harapan DPRD Sintang Terhadap APBD 2024
Laporan Bangar DPRD Sintang Atas Nota Keuangan dan Raperda APBD 2024

SINTANG, RB – Ketua DPRD Kabupaten Sintang Florensius Ronny menyoroti potensi wisata yang dimiliki beberapa Desa, menurutnya ini sangat rugi bila potensi wisata di Desa tidak dikelola dengan baik padahal potensi wisata tersebut adalah aset yang dapat meningkatkan kas desa dan perekonomian masyarakat, dalam hal ini  Aparatur Desa harus cerdas dan kreatif.

Dikatakan Ronny, satu-satunya potensi adalah wisata bukit kelam yang saat ini terbengkalai pengelolaanya dan dari pihak Desa bisa saja mengambil alih penanganan potensi tersebut ketimbang membiarkannya begitu saja.

“Kelam itu aset wisata yang sudah terkenal bahkan hingga kemancanegara, namun seringkali mereka yang pulang dari kelam mengeluhkan tidak terawatnya lokasi wisata itu, ini yang sangat disayangkan, karena orang dari luar Sintang mengenal Sintang dari ikon bukit kelamnya” ujar Ronny saat dijumpai awak media diruang kerjanya.

Meski bukit kelam merupakan salah satu wilayah yang berada dibawah pengawasan dan perlindungan (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Kalbar Zona II Sintang, namun kata Ronny hal itu bukan berarti bukit kelam tidak bisa dikelola oleh pihak desa.

“Bangunan penunjang sudah ada, hanya terbengkalai, nah kalau desa mau, mereka bisa saja mencari jalan keluar dengan berkoordinasi dengan pihak Pemkab dalam hal ini Dinas Pariwisata serta pihak BKSDA sendiri agar bagaimana baiknya tempat tersebut bisa dikelola dan memberikan pemasukan bagi desa” katanya.

Politisi Partai NasDem itu juga menuturkan, saat ini yang mengelola wilayah bukit kelam dengan baik hanya kepastoran, yang mana mereka mengelola wisata rohani, hasilnya pun bagus, hanya saja lokasi mereka terbatas disekitaran areal yang sudah menjadi wilayah kelola mereka.

“Itu yang bisa jadi contoh, bagaimana mengelola lokasi wisata namun tetap mengedepankan kearifan lokal dan berbasis sumber daya alam,” pungkasnya. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0